Sebuah Surat Untuk Sang Pelupa
Nowhere,
13 September 2014
Untukmu, Sang Pelupa..
Hai. Ini aku. Masihkah ada aku walau di sudut terkecil
pikiranmu? Masihkah aku yang hadir di memorimu setiap kali kau hampiri jalan
pikirku? Masihkah kau sama seperti yang dulu, menjauh tapi sesungguhnya tak
kuasa berlabuh? Ku rasa tidak. Lalu mengapa aku bertanya bila aku tau jawabnya?
Aku bodoh bukan?
![]() |
| Source:Google |
Maaf. Tak seharusnya ku buka surat ini dengan cercaan
pertanyaan yang memojokkanmu. Lalu biar aku memulainya lagi. Apa kabar? Baik,
pasti. Tentunya. Karena setiap hari kita
tak pernah tidak bertemu. Setidaknya itu yang ku lihat darimu. Baik-baik saja.
Tanpaku. Ah, lagi-lagi aku seperti ini. Terlalu larut dalam perasaan yang
menjijikan.
Tentunya tak mungkin aku disini sekarang, di depan
perangkatku, menulis apa yang ingin ku sampaikan padamu, tanpa alasan yang
mendasarinya. Ada yang harus ku akui. Maaf. Bukan melalui ucapan yang harusnya
ku lontarkan di hadapanmu. Sebab alam pun tau, aku tak sanggup melakukannya.
Hingga hanya inilah satu-satunya jalan aku menyapamu. Menyapamu dengan kataku.
Secara tak langsung. Kau tau ini sulit, bukan? Menerimanya pun kau enggan. Apalagi aku, yang
belum tentu kuat menampungnya di seluruh sadarku, dan memberikannya padamu.
Mungkin hanya akan berakhir di simpanan perangkatku. Membusuk. Dan terlupakan
begitu saja, lagi.
Bisakah kita mulai? Aku, maksudku. Dan inilah yang akan aku
utarakan padamu. Tentang aku yang tak lagi tergabung dalam kata ‘kita’. Tentang
kamu ynag ternyata telah berapa kali terlihat bahagia, tanpaku tentunya. Ah,
aku belum benar-benar memulainya kali ini. Dan aku akan benar-benar mulai.
Mungkin. Karena kau tak tau bagaimana tak mudahnya aku mengakui hal tak wajar
ini, bagimu.
Kau. Ku dengar kau lebih bahagia. Mengenai beberapa insan
yang menemanimu beberapa waktu lalu, mengenai perkataan teman-temanmu yang
menggodaku karena kau lebih bahagia dengan yang lain dibanding bersamaku,
mengenai candamu yang tak jarang mengaung di ruang kelas, lebih keras dibanding
ketika hatimu masih milikku. Aku bisa menarik garis dari hal itu, setidaknya
aku harusnya bahagia dengan engkau yang bahagia dengan hidupmu.
Terkadang, ada saat di mana aku sendiri bingung dengan
keputusan batinku. Dulu,... Ah, aku rasa kau enggan membahas yang telah lalu.
Tapi biar aku mengakuinya kali ini. Ketika dulu semuanya masih baik-baik saja, dua
tahun lalu, kau tau bagaimana kau di pandanganku? Ku rasa kau orang yang
terlalu baik. Mengesampingkan banyaknya orang-orang yang pernah hadir di
hatimu, kau mendapatkan nilai lebih di mataku. Meski pada akhirnya ku harus
mengusap perlahan hatiku, ketika kau jatuh di tangan orang lain. Kau pernah
menjatuhkan hatimu pada orang lain sebelum denganku. Ingat? Itu tak penting, bagimu
mungkin. Lalu kemudian entah bagaimana, aku lupa dengan cara kita dekat, dengan
aku yang rasanya mustahil kau akan menginginkanku. Sebab waktu dulu, aku pikir
kau begitu jauh untuk digapai. Kenapa? Nilai lebihmu di mataku tak pernah
pudar, dulu.
Aku bahkan tak pernah lupakan kau sebagai alasan, mengapa
tak pernah lengah ku datang hanya untuk melihatmu. Tak tau bagaimana denganmu,
tapi itu cukup membuat hariku. Kemudian apa yang telah kau lakukan, tak jua
lolos dari pikirku, hingga kini. Lagi-lagi, tak tau bagaimana denganmu. Pengakuanmu
yang mengejutkanku, jujur itu membuatku sedikit ragu, mengapa harus aku yang
notabene bukan siapa-siapa yang menurutku tak pantas masuk di hidupmu. Alasanmu
menjadikanku satu-satunya, sepertinya cukup membuatku bergetar, saat itu. Lalu,
lalu, ah singkat cerita, pesonamu tak lekang memaksaku berkata ‘iya’. Dan cerita
ini seperti punya awal. Awal yang baru, tapi tak sepenuhnya.
Aku pernah mendengar seseorang berkata bahwa, masa-masa di
mana pendekatan adalah yang terindah pada masanya, dibanding saat bersama. Dan
itu yang ku rasakan, sesungguhnya. Di luar dari bagaimana aku yang
menginginkanmu sangat pada awal baru itu, di luar dari betapa kau yang pernah
berkata aku adalah satu, terakhir yang hadir di jenjang sekolahmu. Di luar dari
betapa rasamu yang besar bagiku. Di luar itu semua, sebenarnya keadaanlah yang
memaksaku tak nyaman menjalaninya. Di lain sisi, aku masih membutuhkanmu, tapi
di sisi satunya, keadaan pada situasi yang baru, tahun itu adalah penaikan
jenjang berikutnya, dan aku yang tak terbiasa dengan orang-orang di
sekelilingku. Aku masih tak bisa melupakannya. Tapi kau tak pernah tau betapa
aku menghargai hadirmu, hiburmu, dan kuatmu yang menyertaiku. Terima kasih.
Dan ketika jarak memisahkan kita pada waktu lalu, timbunan
hal merengek dibedah di pikiranku satu persatu. Banyak hal yang aku
pertimbangkan. Hingga kau kembali pun, ketidaknyamanan itu semakin menekanku
jatuh terus ke dalam kesesatanku. Imbasnya, padamu. Kau mungkin bertanya,
mengapa aku memutuskan ‘kita’ yang katamu masih baik-baik saja. Namun bagiku,
itu pun menyiksa. Hanya saja, keadaan sekitar tiada henti membuatku
merapalkannya. Merapalkan kita yang tak lagi mampu bersama. Butuh keberanian
untukku mengakui ketidaknyamanan itu. Dan satu hal yang harusnya ku pertegas
pada saat lampau ialah kau tidak pernah berubah. Kau tak pernah salah. Akulah
yang berubah, dan akulah letak kesalahannya.
Maaf. Ku rasa aku mendepakmu keras ketika itu. Kau
menyebutku tak berhati. Namun sungguh, kau dapat bertanya pada waktu pun, aku
sebenarnya tak begitu sanggup melakukannya. Hanya saja, aku merasa bebas
setelah keputusan itu aku rapalkan. Entahlah, lagi-lagi aku yang salah kali
ini.
Walau sepertinya kau terluka begitu sangat, ku pikir kau
pasti akan bertahan. Waktu yang membuktikannya. Kau perlahan sembuh, kembali
berjalan meski tak sedikit waktu kau butuhkan untuk berdiri lagi. Kau buktikan
padaku, hari demi hari, bahwa kau lebih baik tanpa aku. Tanpa aku yang selalu
memberatkan langkahmu. Tanpa aku yang seakan selalu menyeretmu menjauh dari
kebahagiaanmu. Sesungguhnya akulah masa kelammu. Dan kau lah masa terindahku.
Engkau mungkin tak pernah memikirkan ini. Tentang aku yang
tidak begitu lihai mengatur lakuku ketika melihatmu. Tentang aku yang sama
sekali tak tau mengatur tindakku di depanmu. Tentang aku yang akhirnya harus
jatuh pada pilihan terakhir, yaitu menjaga jarak darimu. Hingga kata mereka aku
terlalu kejam atau hal bodoh lainnya, aku tak begitu peduli. Namun ku pikir
inilah yang harus ku lakukan. Sebab mendektimu akan cukup melukai kita berdua.
Aku lelah. Aku lemah, bodoh. Meskipun kesalahankupun bagai
bumerang yang menyerangku erat, tapi jujur aku takkan pernah menyesali
keputusanku. Bahkan bila gulungan waktu dapat ku urai kembali, aku takkan
pernah memperbaiki keputusanku pada masa dulu. Sebab apapun yang terjadi kini,
adalah usaha kerasmu di waktu dulu. Dan aku, siapalah aku yang berhak memutar
waktu hanya untuk menyia-nyiakan usaha terbesarmu. Usahamu, melupakanku.
Apalah aku yang bukan siapamu, lancang mengakui hal ini
padamu. Dan apa yang aku cerca hari ini, ku mohon kau dapat mengerti. Aku tak
meminta apa yang lalu untuk terulang kembali. Aku hanya ingin kau tau, inilah
aku, seonggok kenangan tak berharga yang tak perlu kau kenang, meminta maafmu
atas lakuku yang memberimu memori pahit di waktu lalu. Dan kau, aku menyimpanmu
di sudut terbaik memoriku, hingga cerita lain kan datang mengawali semuanya
lagi. Ku harap kau semakin bahagia, meski tanpa kehadiranku.
“ Aku adalah aku, yang meninggalkanmu tanpa rasa kasihan.
Dan kau adalah candu. Candu yang membuatku sakau karena penyesalan yang tiada
henti aku pikirkan.”
“ Kau tau mengapa kenangan itu sulit dilupakan? Karena ia
takkan terulang kembali. Itu yang membuat kenangan menjadi berarti.” –Ariandi
Ginting
Dari
aku, masa kelammu
************

Komentar
Posting Komentar