Sang Bocah dan Etalase

Sang Bocah dan Etalase  

            Bocah itu mengambil sehelai sapu tangan dari sebuah saku kecil. Baju putih yang ia kenakan, mungkin tidak layak disebut putih lagi. Beberapa noda bak jamur-jamur di sisi pepohonan, melekat erat di permukaan baju. Celana merah ia kenakan. Setiap orang pun tahu, siswa di bangku sekolah dasar sering mengenakannya. Tapi tampak, lusuh badan dan celana. Bahkan wajah, seperti lipatan-lipatan baju kusut.

Pekat siang menerpa miris kulit keringnya. Terik seakan tertawa, ketika ia mendongakkan kepala, memalang wajahnya dengan jarinya, guna menghindari terik yang berpendar di sela-sela jemari. Tampak setumpuk koran memekik haru, bagai ingin lepas dari genggaman. Beberapa kali ia menjajakan dagangan kepada orang-orang yang sekedar ingin lewat ataupun ketika kendaraan-kendaraan menghentikan lajunya, di persimpangan lampu merah.
Source:Kompas
 
            Aku lelah menemani langkah beratnya. Sebaiknya dia pulang saja, pikirku. Tapi kemana? Tak ada tempat bagi dia untuk pulang. Dengan lunglai ia beranjak pergi. Melewati beberapa penghuni toko, peminta-minta di sudut jalan, dan manusia-manusia yang lalu lalang layaknya robot pengejar mesin waktu. Kemudian, sedekar menyejukkan dahaga, ia singgah di pinggiran jalan. Membuka keran perlahan, dan meminumnya tergesa, seakan sesuatu mengejarnya secara terburu-buru.
            “Kita pulang saja. Aku sudah lelah menemanimu seharian ini. Lagipula kita tidak mendapatkan apa-apa lagi hari ini.” Gerutuku pelan.
            Ia bergeming. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.  Lalu ia berhenti sejenak di bawah sebuah pohon rindang. Mungkin membujuknya agar sekedar duduk menikmati sapuan angin barang sebentar.
            “Kau tak mendengarku? Kau tak ingin pulang?” tukasku lagi
Ku pikir ia lelah, karena detik berikutnya, ia telah tertidur pulas, bersandar pada akar pohon besar dengan batang yang menjulang. Aku tertegun. Ah, apakah aku sudah gila?
Beberapa waktu berlalu dengan cepat, nampak sayup-sayup suara adzan mengaung indah hingga menggetarkan gendang telinga. Ia tersentak, dengan cepat meraih tumpukan koran yang terlepas dari genggaman saat ia terpulas. Tak lupa ia meraihku, beruntung aku telah terjaga sedari tadi. Ia bergegas menuju sumber suara itu, yang masih terdengar bertalu-talu. Seharusnya dia memikirkan aku juga. Betapa tidak? Aku pun tersiksa dihela tanpa sengaja seperti ini.
            Sesampainya, terlihat bangunan kecil bercorak putih di seluruh penjuru sisi, dengan beberapa orang yang masuk ke dalam bangunan itu. Bocah itu segera menuju salah satu sisi surau, memutar salah satu keran, dan mulai membasuh beberapa bagian tubuh. Kemudian ia meninggalkanku di luar dengan beberapa tumpukan, dan masuk ke dalam bangunan itu bersama mereka. Setidaknya, walau hidup begitu berat, ia masih tak lupa bagaimana bersyukur. Meski beban menjajah perih, meyekat peluh dengan terlalu, ia tak mau berpangku tangan lalu mengeluh. Ia tahu, ia tak seperti anak lain, yang bisa saja saat ini harusnya tertawa dan bersenda dengan kawan sebaya. Tapi ia tahu pasti, hidup tak akan mengalah padanya, hanya karena ia kecil, dan tak mampu.
            “Nak, apakah kau berdagang koran?” tanya seorang pria, ketika bocah itu hendak keluar setelah melaksanakan kewajibannya. Wajah pria itu tampak bersahabat dengan kumis yang melintas diantara hidung dan bibir.
            “Ya” angguknya pelan seraya berjalan keluar
            “Bisakah aku membeli satu?” tanya pria itu. Ia menggiring sang bocah ke pinggir teras, mengajaknya bicara sepatah kata.
            Aku tak tahu pasti apa yang mereka perbincangkan. Hanya saja, bocah itu terlihat sumringah. Wajahnya merekah, layaknya bunga yang mekar di musim semi, setelah diterpa angin yang datang-pergi semau-ingin. Pria itu seakan meyakinkannya akan sesuatu. Aku semestinya ditanyai juga, tapi sepertinya mereka terlalu larut dalam bualan mereka saja. Sayup-sayup aku mendengar
            “Baiklah. Jika kau ingin, kau bisa bersamaku dan kau dapat mengandalkanku. Bagaimana?”
            “Baiklah, pak.” Serunya berbunga-bunga. 

            Lalu ku lihat bocah itu beranjak, meraihku dan tumpukan koran itu lagi. Tapi pria itu masih bersamanya. Dibawanya kami ke sebuah perempatan jalan, melewati sudut kota, meyebrangi simpangan lampu merah, dan sampailah kami di sebuah etalase. Sepertinya aku banyak melihat yang serupa. Sepanjang jalan, hanya etalase dengan berbagai macam benda dipajang di kaca depan. Tak sedikit barang yang dijajakan. Sepertinya cukup berbeda dengan bocah itu yang menjajakan dagangannya sendiri. “Mengapa tak ia jajakan saja seperti yang dilakukan orang-orang pada etalase ini?” Pikirku bodoh.
            Kala ia membawa kami masuk ke salah satu tempat  yang di depannya digantung papan dengan tulisan ‘buka’, ia memilah dan memilih barang yang sesuai untuk kami. Tapi semestinya ini agak aneh.
            Usai itu, aku diangkatnya. Sedetik kemudian, gelap. Hanya gelap yang mengisi sapuan pandangku. Dengan bau menusuk di sekitarku, ku tahu di mana tempatku kini berada. Sembari terdengar langkah kaki dari dua orang yang menjauh, semakin menjauh, hingga tak sanggup ku capai lagi.
            Ah, apalah daya aku yang bodoh ini. Apalagi yang harus aku lakukan? Nyatanya, kesekian kalinya, aku harus masuk ke tempat ini lagi. Melalui tahap yang kata mereka daur ulang, aku harus remuk lagi untuk mendapat bentuk yang baru. Yah, sandal pun kini tak mampu bersaing untuk hidup di luar sana. Hidup, betapa kejamnya kau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Secret Admirer

Untuk Ikram Wahyudi.

PENENTUAN