Curhatan Korban PHP
Aku menerimanya. Segala hal
yang kau berikan padaku, dan semua lakumu yang sesungguhnya sangat menyakitiku.
Tidakkah kau ingat, sayang ? Di saat kau begitu terpuruk karena keadaan saat
tak ada seorang pun yang bersedia hadir di sisimu, hanyalah ada aku yang terus
mencoba menghapus air mata mu?
Di saat kau sangat membutuhkan tempat untuk meleburkan resah dan risau hatimu, hanyalah ada aku yang senantiasa menemani gelisah jiwamu, memberikanmu sandaran pundak terbaikku, dan menghiburmu dengan guyonan garingku? Bahkan di saat kau terlalu bahagia dengan sahabat-sahabatmu, aku masih saja menguntit langkahmu, meski aku tahu bahwa hadirku tak pernah kau hargai.
Di saat kau sangat membutuhkan tempat untuk meleburkan resah dan risau hatimu, hanyalah ada aku yang senantiasa menemani gelisah jiwamu, memberikanmu sandaran pundak terbaikku, dan menghiburmu dengan guyonan garingku? Bahkan di saat kau terlalu bahagia dengan sahabat-sahabatmu, aku masih saja menguntit langkahmu, meski aku tahu bahwa hadirku tak pernah kau hargai.
Ketahuilah sayang. Ketidakpedulianmu dan ketidakacuhanmu selalu
aku terima dengan mudahnya. Kata mereka, aku bodoh. Membiarkan engkau terus
menggantungkan perasaanku tanpa pernah berusaha memperjelasnya. Merelakan engkau
pergi dengan yang lainnya, meskipun hatiku begitu nelangsa dibuatnya. Selalu
menjadikanmu yang Pertama, sementara aku tak pernah menjadi yang utama.
Aku mencintaimu. Teramat sangat, bahkan. Kau tau itu? ah,
aku rasa bahkan kau tak mau tau. Namun, aku sungguh menerima semuanya apa
adanya. Harus kau tau bahwa aku mengenalmu lebih dari siapapun, dan aku akan
mencoba selalu mencintaimu dalam balutan ketidaksempurnaanku. Terima kasih.
Setidaknya aku bahagia dapat mengetahui bahwa aku pernah mencintaimu.
***
Komentar
Posting Komentar