PENENTUAN
PENENTUAN
Seorang gadis, bergaun
dengan atasan senada jingga saat senja, dan bawahan hitam sehitam gelap, duduk
termangu di tengah bangku taman. Ketika itu, semi memuncak, merekahkan bunga,
dan pepohonan di pinggiran jalan taman. Dua lampu taman seakan menjadi penjaga
setia bangku itu, mengapitnya seakan erat enggan lepas.
Rambutnya dibiarkan
tergerai. Ia duduk tenang. Namun sorot mata berkata berbeda. Tangannya
disingkap di belakang badan. Seakan sesuatu ingin ia sembunyikan. Memang ada.
Dan sepertinya sesuatu itu bukan hal yang begitu baik.
Kala itu senja sebentar lagi
nampak. Tak sabar ia menunggu. Seperti akan berdiri, namun ia urungkan. Tak
jauh, sesosok tinggi, sesosok pria, memakai coat panjang berwarna coklat dan
baju lapisan di dalamnya itu melangkah dekat. Ia sumringah. Gadis itu terpaku.
Menatap insan yang tengah berjalan ke arahnya itu dengan lekat. Sepertinya ia
tak percaya dengan yang tegah ia hadapi.
“Hai” Seru insan tinggi itu saat tiba menghampiri sang
gadis
“Kau..”
“Maaf aku membuatmu menunggu lama.” Lanjutnya sembari
menggaruk bagian belakang kepala pelan
Gadis itu hanya menyunggingkan senyum tipis diiringi langkah
pria yang bergegas duduk.
“Kau, apa kau telah memutuskan?” Tanya sang gadis cepat,
meski terlihat ragu saat pertama ia membuka mulut
Gadis itu tak menengadah. Tak mampu mengangkat wajah, tak
sanggup menatap telaga bening insan di sampingnya.
“Haha” Tawa sang pria garing
“Aku telah punya jawabannya.” Sembari air muka menjadi
lebih serius. Nampak tak ada senyum ramah seperti sedetik lalu.
“Lalu, apa?” Sanggah gadis itu pelan. Terlalu pelan, dan
semakin menelan wajahnya tunduk
“Aku..”
Tangan gadis itu masih berada di belakang tubuhnya. Siap
dengan keadaan yang mungkin tidak menguntungkan. Semakin erat genggamnya,
bahkan seperti akan lepas karena tak mampu dipegang lekat.
“Maaf. Aku mungkin menyakitimu.”
Jantung gadis itu berpacu cepat. Tak sanggup mendengar
kata berikut yang kan terlontar. Genggam dipererat di balik tubuh mungil itu.
“Aku tak menyangka, kau mencintaiku”
“Aku lebih tidak menyangka kau mengungkapkannya padaku”
“Tapi, kau tak tahu bahwa..”
Sorot tajam, mengganti tatap lembut yang berlalu. Lekas,
akan dengan siap dan cepat ia menarik benda kilau itu di balik tubuhnya, sebelum...
“..bahwa aku menyukaimu lebih dulu.” Aku sang pria seraya
menundukkan wajah. Bersemu pipi insan itu. Keadaan berlalu canggung.
Gerak ia hentikkan. Belati itu tak jadi ia singkap. Mata
sendu terbelalak, wajah dingin, beku, kejutan tak terhingga mendebar, menembak
tepat hati sebagai sasaran tuju.
“Apa kau marah padaku?” Tanyanya heran
Gadis itu tersenyum. Mengukir senyum, dengan tatap
dingin, dan tangan yang lebih erat ia sembunyikan di balik tubuh. Belati itu,
tak jadi.

Komentar
Posting Komentar