HUJAN
HUJAN
Hujan
selalu datang ketika aku ingin melupakannya. Mungkin untuk menggodaku yang
selalu bergumam dalam benak aku sangat membenci hujan. Katamu hujan adalah
satu-satunya hal yang kau sukai di dunia ini. Katamu, hujan begitu baik.
Memberi kesempatan makhluk lain untuk hidup. Ketika hujan, segalanya redam,
menenangkan. Meski deras bisingnya memekakkan, namun katamu, itu bak melodi
indah. Layaknya nyanyian, bersenandung merdu.
Aku
membenci hujan. Katamu, hujan mengerti apa yang kau pikirkan. Mengenai hal-hal
mengecewakan, mengenai hal-hal indah, mengenai kita. Lalu aku menyanggahnya
dengan berkata hujan adalah hal yang merepotkan. Ia iri pada insan. Menghalangi
orang-orang untuk melakukan yang harus mereka lakukan. Basahnya hujan, dinginnya
merasuki tulang. Kau tertawa. Kemudian tawa itu berbaur dalam senandung deras
hujan.
Kau
mencintai hujan. Dengan kehadiran petrichior, yang selalu kau nantikan ketika
ia berhenti. Aku tidak peduli. Air yang mengggenang lebih cukup mengesalkan,
karena jalanan yang penuh dengan air. Bahkan saat ia pergi, dinginnya masih
terus menyerbu. Tak memberi sedetik jeda untuk menghangatkan raga.
Dan
teramat sangat, aku begitu membenci hujan. Hujan membuatku kehilanganmu. Hujan
memaksamu melangkah jauh. Hujan mendesakku melepaskanmu. Hujan, katamu ia mengerti kita, tapi aku
selalu tahu, ia iri dengan hadirnya kau di sendi-sendi kehidupanku.
Kau
pergi. Harus pergi. Katamu hujan memanggil semua kenangan kita untuk berlalu.
Dengan hujan yang bisingnya semakin menjadi, telaga beningku mendapati kau
mati. Mati di hatiku yang menolak semuanya terjadi. Suara derap kakimu tak ada lagi.
Di kala petrichior hinggap, seharusnya kau tengah menari di depanku. Tertawa.
Renyah. Baritone sendu mengalun ke gendang telinga. Seharusnya. Semestinya.
Kini
hujan tidak lagi bersua. Petrichior, tak lagi ku gantungi asa. Nyatanya hujan
tak pernah membawamu kembali. Rintiknya, tiap kali ia memantul atap, beribu
kali jua aku kehilangan harap. Setiap hujan turun, aku rapalkan benci dan
dendam serta bara. Karena kedatangan itu menguak memori terpendam mengenai
kita. Karena bisingnya tak mampu meredam resah hati yang kecewa. Karena
petrichior tak sanggup, enggan mengungkit hatimu mengenai aku. Karena
petrichior, membuatku termangu memangku peluh.

Komentar
Posting Komentar