Secret Admirer
Cinta tak terbalas, adalah cinta yang
selalu jatuh tertindas dalam genggaman. Cinta yang hanya mampu terukir dalam diam.
Cinta yang menggetarkan jiwa manusia yang merasakan. Cinta yang menjadikan
lidah terasa kelu, dan cinta yang tidak pernah nyata dalam ungkapan lisan.
Ia melabuhkan cintanya pada keteguhan
yang tidak beralasan. Tidak ada yang
benar-benar dengan pasti mengetahui, sejak kapan mulanya benih cinta itu muncul
dan berkembang dalam hati. Tidak ada yang dengan jelas menyadari seberapa
besar cinta buta itu tumbuh dan membelalakan hati sang pemilik. Atau mungkin
lebih tepatnya, tidak ada yang peduli.
Baginya, tak apa bila ia tidak pernah
bertegur sapa pada sang pelabuhan hati. Tak apa pabila bahkan pujaan
tidak pernah mengenalnya, atau bahkan tidak mengindahkannya. Dan tak mengapa
pabila sang pengagum yang selalu terbungkam dalam diam itu, merasa tersiksa
setiap detik putaran waktu karena melihat sang pujangga telah memiliki insan
lain dalam mengisi hari-harinya. Tak mengapa, asalkan senyum sang pewarna
hidup, tidak pernah beranjak dari tempatnya. Bagi sang pengaggum, segalanya
adalah hal yang biasa.
Waktu begitu lihai membawa penghuni
kehidupan ke dalam keadaan yang diinginkan. Ketika memori kembali terputar,
akan nampak sesosok gadis tengah melaju dalam cengkraman hujan, berlari
melintasi jalan setapak dalam keremangan senja. Ia terpaku, lidahnya kelu,
tatapnya beradu dengan pikiran terdalam. Dilihatnya sang pujangga yang telah
lama menghantui hari-harinya, meski ia tidak pernah menyadarinya. Sang Pujangga.
Tebak apa yang ia lakukan? Ia, yang
senantiasa tidak pernah luput dari objek pengintaian sang pengagum, tengah
berdiri dengan sebuah pendopo yang menjadi teduhannya. Dapatkah seseorang
menjelaskan bagaimana perasaan sang pengagum? Sedetik berlalu, dan sang
pujangga pun ikut berlalu dalam rintikan hujan yang mulai mereda. Sebelum
akhirnya sang pengagum mengukir indah bayangan sang pujangga, ia pun kembali
meneruskan langkah yang terdahulu. Kau tahu? Ya, kau. Siapapun kau. Entah peduli
atau tidak, tapi sang pengagum telah terlanjur bahagia atas pilihan yang ia
putusakan.
Cinta itu menyakitkan. Bahkan ia tidak
hanya sekadar menyakiti, namun pula membunuh. Mampukah kesakitan yang ia
rasakan membunuh rasa dan impinya yang tidak akan pernah menjadi nyata? Tidak.
Bahkan ketika telaga bening menangkap sosok sang pujaan tengah bersama insan
lain yang tidak dikenalnya. Ia kebal, ya. Kebal pada rasa sakit dan penderitaan
yang tiada henti menyantuni seuntai nurani lembut. Kebal pada sapaan lisan pertama yang
tidak bermakna dari sang pujaan, ketika mereka berpapasan pada keadaan yang
tidak disengaja. Kau tahu apa yang diucapkan oleh sang pujangga? “Maaf, bisakah kau menjauh?” ia menyerukannya ketika tidak sengaja bertemu pandang
dengan sang pujangga. Jarak mereka dua langkah kaki orang dewasa. Seperti
biasa, badannya terasa kelu luar biasa. Sang pujangga mengehentikan langkah,
setelah sebelumnya melangkah dengan tergesa. Dan saat itulah, pertama kali ia
mendengar lantunan suara sang pujaan, meski dengan keadaan yang tidak terlalu
menguntungkan. Baginya, pertemuan itu telah terlalu mengesankan.
Adakah yang tahu akhir dari penantian
sang pengagum? Hanya Sang Pencipta skenario kehidupanlah, yang mengetahui alur
dari cerita yang dirangkaikanNya. Dan inilah sepotong kisah dari cinta sang
pengagum. Bulir-bulir asa yang mengalun indah dalam benak yang tersembunyi,
mungkin akan berkembang lebih indah dalam dunia kecilnya, namun bisa juga terhenti
karena satu dan hal lainnya. Siapa yang tahu.
Komentar
Posting Komentar