The Rain

     Hidup terus bergulir. Hidup akan terus berlalu. Hidup akan terus mengalir dan tidak akan berhenti melaju. Apa yang aku jalani hari ini, detik ini, titik ini, tak akan abadi. Kebahagiaan dikelilingi orang-orang yang istimewa, bahagia atas cinta yang berbunga-bunga, bahagia karena kasih dalam sebuah kehidupan, semestinya tak akan begitu berharga.

     Aneh memang, ketika waktu pun beranjak dan tak ada yang bisa menghentikannya. Sejenak ketika aku berhenti, kembali menyapa orang-orang yang dulunya dekat, bahkan begitu dekatnya dengan hariku pada waktu dulu, semua terasa berbeda. Mereka yang dulunya aku yakini sebagai orang yang begitu ku kenali, ku ketahui, nampaknya sama saja dengan sebagian dari mereka, yang ku sebut sebagai orang asing. Kelihatannya semua berbeda.
     Kita mungkin kini menjalani hari ini. Mungkin saat ini kita percaya bahwa kita sungguh mengenal mereka, dengan tiap langkah mentari yang jatuh dan kembali, tiap gurauan dan canda yang seakan tidak pernah terasa garing, dengan keyakinan bahwa kita adalah tokoh berarti dalam kehidupan mereka. Nyatanya tidak. Seiring waktu yang terus berputar, kita sejatinya akan hilang dari bagian kisah mereka, dan digantikan oleh tokoh-tokoh lainnya. Itulah waktu.
     Jika perincian dibutuhkan, maka hidup berlaku layaknya hujan. Hujan turun, berperan membasahi bumi. Ketergantungan akan mempererat keduanya. Waktu pun terus memonopoli. Waktu berjalan, hujan tiada, dan air hujan menguap, pun di bawah batas-batas jendela. Mentari menjelang, menggantikan apa yang memang seharusnya disingkirkan. Dan aku, ialah apa-apa yang menguap di belahan sisi bumi. Ditinggalkan di bawah batas jendela, dilupakan di antara mereka yang datang menggantikan.
Hidup. Ia kejam. Ia kerahkan pasukan waktunya untuk membunuh kebahagiaan. Mematikan keceriaan. Menyalahgunakan pengorbanan. Dan aku, korban waktu yang selalu diabaikan.
Andai duka tak diiringi perpisahan, mungkin luka tidak akan terpupuk dalam. Andai bahagia tak diiringi rasa penyesalan, mungkin aku tidak akan selalu dianaktirian. Dan andai hujan pun bumi tidak pernah dipertemukan, mungkin cinta yang menguap tidak akan begitu terasa menyakitkan. 
                               "Hujan"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Secret Admirer

Untuk Ikram Wahyudi.

PENENTUAN