The Last Night.
Malam itu adalah malam terakhir di tahun yang tengah berjalan. Malam itu, ketika dunia dipenuhi rasa bahagia yang membuncah di penghujung pusat kota, saat langit dilingkupi beribu warna kembang yang bersusul-susulan untuk merekah, di saat itulah, di sudut kota tua, tanpa ku sadari sesuatu yang berharga yg dulunya ku miliki telah direnggut dengan sukarela.
Tak ada yang tahu bagaimana logika dapat menjabarkan segalanya. Tak ada yang bisa menceritakan apa yang telah terlanjur terjadi di malam sebelumnya. Tak ada. Bahkan aku. Aku yang tidak lagi berharga.
Peristiwa malam itu berlalu. Sehari berselang, aku terjaga di dalam sebuah ruang yang tidak terawat, dengan pakaian yang telah ditanggalkan. Lelah. Tak ada seorang pun yang hadir di tempat itu ketika sinar pagi membangunkanku. Satu-satunya hal yang ku tahu hanyalah, ia adalah orang yang ku labuhkan cinta dan rasa percaya setahun lamanya, dan ia pula orang yang dengan mudahnya meruntuhkan kepercayaanku hanya dalam waktu semalam.
Kau pikir aku bodoh? Ya, aku pun. Tapi tatapku kosong. Mulutku terkatup seakan sebuah gembok menahannya erat untuk tidak membuka suara. Tubuhku dingin. Kaku, seakan tidak bernyawa.
Kau tahu apa yang selanjutnya terjadi, kawan? Aku mengakhiri kebodohanku dengan tindakan sedetik tanpa pikir panjang. Entah bagaimana, namun sebilah itu berhasil menolongku dengan memisahkan urat nadi di lenganku. Setidaknya ini masih lebih baik. Dan setidaknya, aku tidak harus menanggung malu atas kebodohanku.
Tak ada yang tahu bagaimana logika dapat menjabarkan segalanya. Tak ada yang bisa menceritakan apa yang telah terlanjur terjadi di malam sebelumnya. Tak ada. Bahkan aku. Aku yang tidak lagi berharga.
Peristiwa malam itu berlalu. Sehari berselang, aku terjaga di dalam sebuah ruang yang tidak terawat, dengan pakaian yang telah ditanggalkan. Lelah. Tak ada seorang pun yang hadir di tempat itu ketika sinar pagi membangunkanku. Satu-satunya hal yang ku tahu hanyalah, ia adalah orang yang ku labuhkan cinta dan rasa percaya setahun lamanya, dan ia pula orang yang dengan mudahnya meruntuhkan kepercayaanku hanya dalam waktu semalam.
Kau pikir aku bodoh? Ya, aku pun. Tapi tatapku kosong. Mulutku terkatup seakan sebuah gembok menahannya erat untuk tidak membuka suara. Tubuhku dingin. Kaku, seakan tidak bernyawa.
Kau tahu apa yang selanjutnya terjadi, kawan? Aku mengakhiri kebodohanku dengan tindakan sedetik tanpa pikir panjang. Entah bagaimana, namun sebilah itu berhasil menolongku dengan memisahkan urat nadi di lenganku. Setidaknya ini masih lebih baik. Dan setidaknya, aku tidak harus menanggung malu atas kebodohanku.
Komentar
Posting Komentar