Untitled

Pada dasarnya, hubungan manusia itu rapuh. Bahkan bila diibaratkan sebuah pijakan,maka topangan bagi pijakan tersebut tentunya sangat dibutuhkan. Dorongan selembut apapun dapat meretakkan hubungan manusia, meskipun terlihat bagi orang lain, permukaannya tenang dan tak beriak. Sentuhan sekecil apapun dapat meluluhlantakkan pijakan yang dibangun, jika dasarnya tak benar-benar kokoh. Atau mungkin karena pernah terjadinya sebuah retakkan sebelumnya, yang bahkan jika sebuah hubungan di bangun kembali, dasarnya tidak lagi sama. Itu berbeda.

Saat meyakinkan diri sendiripun, berkata kita kan berusaha keras untuk memperbaikinya, nyatanya hati manusia itu tak sekonkrit ucapannya.
Hubungan itu bahkan mejadi lebih rumit. Kita tak masalah pada suka atau perasaan gembira, namun ketika duka itu datang, kita tak tahu bagaimana menyikapinya. Ini seperti dasar hubungan ini ternyata tak sekokoh yang kita pikirkan. Kita tidak benar-benar memperbaikinya. Kita tidak benar-benar berusaha. Karena baik-buruknya tak pernah kita utarakan.
Seakan semua kata yang harusnya terucap dengan lancar, tertahan di tenggorokan. Mendadak kita tak tahu bagaimana menyikapi hal buruk yang menimpa. Hanya terus menyikapinya dengan diam dan berharap ia dapat menyelesaikan dirinya sendiri. Buktinya, tak ada yang ingin bertindak.
Meski kita berkoar akan berusaha memperbaikinya, dengan senyuman abu-abu dan candaan garing, serta tidak mengindahkan perasaan canggung kedua belah pihak, dan berpikir semua hal pasti akan kembali seperti sedia kala, faktanya tak ada yang berubah. Kita seperti berada di sebuah lubang dengan pintu keluarnya adalah pintu awalnya. Seperti lingkaran tak berujung dan tak berakhir. Benarkah kata orang bahwa semakin dekat hubungan jarak manusia, maka semakin besar pula peluang untuk jaraknya melebar? Mungkinkah masalah dari hubungan manusia adalah jarak itu sendiri? Bila kita sejak awal tidak mempererat jarak, mungkin keadaan masih sestabil sebelumnya.
Lantas apa sumber masalah hubungan manusia? Kurang kokohnya pondasi hubungan manusiakah, ataukah kurangnya minat untuk memperjelas masalahnya? Masalah komunikasikah? Ataukah karena jarak itu sendiri?
Mungkin semua yang kita butuhkan hanyalah waktu. Waktu untuk pikiran –kesendirian- kita. Dan entah bagaimana waktu kan membawa hubungan itu menjadi serumit apa.
                                                               
                                                                                                                               



Sen,16 Januari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Secret Admirer

Untuk Ikram Wahyudi.

PENENTUAN