Bulan Keenam. Hari Kedua.

Ketika hujan pun bumi mengguyur benda-benda mati
Ketika angin pun pergi melintasi dunia tiada henti
Ketika uap-uap air pun mengendap menjadi bekas hujan semalam tadi
Ketika apa yang mereka sebut sebagai "Lalu" hadir dan kembali menggerayangi
Ketika itu. Waktu menempa hati yang dulunya pergi kesana kemari
Bulan keenam. Hari kedua
Dimana Sang Kara menjalani kesendiriannya
Dimana "Bahagia" menyapanya ketika keputusan telah dibulatkan
Ia menghampiri sunggingan senyum tiada jeda, di tiap 3 bulan pertama
Katanya itulah kebebasan
Ya. Namun ia lupa dengan sebuah kata penyesalan
Katanya itulah kebahagiaan
Ya. Namun ia tak ingat bagaimana perihnya rasa ditinggalkan
Yang dibiarkan serasa mati
Yang menyakiti seraya tidak peduli
Ia akan menghadapi sebilah karma dari belati
Dan kemudian lumpuh dengan setumpuk beban di dalam hati
Bulan keenam. Hari Kedua
Waktu yang menghempas segala hal kembali
Waktu yang memutarbalikkan keadaan
Dengan mengiris perih kekosongan memori
Bulan keenam. Hari Kedua
Telah 3 bulan terakhir
Sekelebat rasa menghantui peristiwa
Ia pun harusnya mulai sadar arti hujan yang menguap di batas-batas jendela
Ia pun mestinya paham dengan apa yang kata mereka akan hilang setelah perpisahan dilisankan
Jikalau hujan tidak dapat diputar lagi
Jikalau "Lalu" tak dapat berulang kembali
Biarkan ia pergi diseret angin yang menemani hujan yang setia membasahi
Dan Ia tahu
Inilah jalan bagi Sang Pendosa
Jiwanya punah karena ribuan karma
Selagi Sang Pemberi Karma bahagia dengan insan lainnya
Bulan keenam. Hari Kedua.
Komentar
Posting Komentar