The Deepest Hurt



Angin lembut menyapa kulitku. Mengiringi sunggingan senyum yang menghangatkan bingkai wajahku. Saat kau duduk disampingku, dan melewati semua keadaan yg ada .
Disini, aku duduk terpaku. Menatapmu yang dengan dinginnya masih berkutat dengan jalan pikirmu. Entahlah. Aku tak pernah tahu apa yg kau pikirkan .


Kekarnya pohon ini, yang kesekian kalinya mampu meneduhkan cinta dan segala asaku, mungkin tak sekekar janji dan ketulusanmu.

"Aku.. " Ia akhirnya membuka suara .
"Apa ?"

Setelah sekian lama kita memulainya, kau kembali mengukir kenangan pahit di tempat Kita. Ah, mungkin tak lagi harus kukatakan Kita, karena yg ada hanya tinggal Aku dan Kamu.

"Ada yang ingin aku katakan " ujarnya sedikit ragu.
"Apa ?"

Sekali lagi, tanda tanya besar memenuhi otakku. Namun sebelumnya tak pernah aku khawatirkan .

"Aku, ingin kita.."

Ia kembali menggantungkan kalimatnya, seperti ada hal yg akhirnya membuatnya menggumam dengan lirih sembari menunduk dalam. Tapi, aku hanya mampu menatap telaga bening itu, penghangat Asa dan segala Fantasi Labilku.

" Kita, sebaiknya berakhir sampai disini" Selorohnya mantap.

DEG !

Tuhan, tolong katakan ini semua bohong! 

Telah terlalu jauh rasa ini ku ukir, membatu dalam hati dan pkiranku, menetap dlam otak dan nafasku.

Kau yg memulainya ! Meminta dan mengemis, ternyata tak ada ketulusan dibalik senyum liarmu. Hanyalah cara untuk melengkapi sandiwara Indahmu saja .

" Maaf.."

Ia kembali menyempurnakan kemunafikannya dalam satu kata suci yg pernah diucapkannya dulu.

Aku tahu. Ini pasti takkan mudah. Kau yg masih memikirkan teman temanmu yg tak pernah dapat mengertimu .
Atau mungkin..

Seakan kini aku tak mampu lagi menghembuskan nafas, sesak menghimpit sempit rasa hatiku. Seakan satu panah harap yang dulu kau tancapkan, kini menjadi beribu panah kebencian dan kebohongan yang menghujam rasaku.

Sakit, teramat sakit, dan tak tertahankan. Tapi memang kau takkan pernah sanggup mengerti itu.

Beberapa saat, semua hening. Dan tak ku dengar lagi suara baritone lembutmu.

Tak dapat kusesali memang, aku kembali menjatuhkan bulir bening itu untuk yg kedua kalinya.
Janji Setanmu harusnya tak pernah ku indahkan!

Namun ..

Mengalir tanpa tahu kapan kan dapat dihentikan. Kau terlihat polos dan merasa semua masih baik baik saja.

" Ya.."

Mataku hanya mampu menatap lurus dan tak mampu bergumam lagi. Ia tersedak, hanya terdiam, dan mungkin senang melihatku tertindas.

Ia beranjak pelan, melangkah pasti dengan membawa berjuta ketenangan dan kebebasan, mungkin.

Tak seperti dulu, ku tak mampu lagi menahan tangan kekarnya. Dan aku tak miliki lagi alasan untuk melakukannya. Tak seperti dulu, kau tak lagi berlutut di hadapanku, dan dengan lembut menghapus bulir airmataku.

Hanya mampu menutupi airmata dan senyum yang tak lagi membingkai wajah suramku dengan dua tapak tangan yang menemaniku.

Bersama kesedihan dan berjuta penyesalan, angin pun kembali menguak mimpi dan semua harapan di dalamnya.Hingga hari ini berlalu, kau takkan pernah lagi dapat mengobati lukaku.

Dengan aroma tubuhmu yang dulu menghangatkanku, kini menyadarkanku bahwa kau memang tak sebaik yang terkira.

Aku membatu, dan tak lagi mampu berkutik.

Dia. Hanya ada Kau dan Dia. Tak pernah ada 'Kita', atau bahkan semua kata Cinta yg telah terukir di dalamnya.

Semoga, kau bahagia dengan pilihanmu.

Ya, semoga..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Secret Admirer

Untuk Ikram Wahyudi.

PENENTUAN