The Best First Love

  

Ku pandangi dua telaga bening indah itu, yang setiap harinya hanya dapat ku nikmati di balik senyumnya. Tak pernah dapat kuraih bintang indah dalam dekapan langit kelam yang mencekam.
 
Lekuk wajahnya yang menggariskan beberapa ketulusan, serta menyimpan rasa yang berat, sudah cukup bagiku untuk menjelaskannya. Tak pernah kusangka, rasa itu akan menghampirinya. Dia yg tak pernah ku bubuhkan harapan cinta. Tapi rasa itu mengubahnya, bukan hanya dia, tapi juga aku. 



Tatapan teduh itu, gerak bibir yg begitu lirih menyapa gendang telinga. Seakan ingin menahan waktu yang lepas dari porosnya, aku masih ingin tetap dia disini, menatapku lembut dgan garis garis ketampanan yang terpancar. 

Ya, karena ini pertama kalinya. Pertama kalinya aku berani membuang kata dengan jarak sedekat ini dengannya. Aku menyukainya, dan dialah yg telah meruntuhkan benteng teguh dalam hatiku sebelumnya. 

"Hmm" gumamnya lirih.

  
"Apa? " selorohku, sambil beberapa kali menyapu pandang ke pohon kekar yg seakan menyangga kami berdua, saksi bisu segala khayal serta kebodohanku. 

"Aku, menyukaimu. Sangat menyukaimu. Tapi aku tahu, kau tak pernah mau menyadarinya. Aku tak memaksamu membalas rasaku, aku hanya ingin, kau izinkan aku untuk mencintaimu dalam diam." akunya pelan

DEG!
Salah! Kau sangat salah! 

Tuhan, jika ada orang yang paling pintar menyembunyikan perasaan dibalik tawa gelapnya, itu pasti aku. 

Aku memang berpikir kau tak mungkin memiliki rasa itu, dan tak ada getaran sedikitpun yang menggangguku. Tapi dulu. Ya, itu dulu. Tidak dengan saat dimana kau tersenyum malu dan tersipu karena godaan teman-temanmu yang menggodamu tentangku, tidak degan saat kau tertawa lepas tanpa tahu aku memandangmu dan mengukirnya dalam memoriku. Sebegitu tak terlihatkah semua gerakku yang menurutku cukup untuk membuktikannya? 

Ah, sudahlah. Lagi lagi, aku tak mampu berkutik dalam diam setiap kali membahas ini dalam pikirku. 

"Hei! Kamu pasti merasa aneh, karena aku memiliki rasa ini, maaf ya!" ujarnya lembut, sembari tersenyum

Ah, seandainya dia tahu!


Tanpa ada dorongan yang mendalam, aku kini telah menjatuhkannya. Tetesan yang membentuk alurnya sendiri. Setelah sekian lama aku coba membendungnya. 

"Jika, kamu ingin bertanya padaku, aku akan menjawab pertanyaanmu. Tapi tolong, jangan kau buat pernyataan yang tak beralasan untuk menyakitiku. Aku membencimu, dan juga teman-temanmu! " seruku pasrah. 

Sedikit lega memang. Tapi sepertinya, belum sepenuhnya aku katakan yang sebenarnya. 

"Maaf.." 

 
Ia lalu mencoba menghapus bulir bening itu, aku hanya terdiam menatapi tatapan senyumnya. Sangat tampan, tapi bukan itu yang menjadi prioritasku. 

Lalu ia beranjak pergi, tapi dagan gerak yang cukup cepat, aku menahan tangan kekarnya,dengan masih terduduk di bawah pohon ketapang ini. 

"Tapi, aku mencintaimu " ujarku sembari menundukan kepalaku dalam, ia terpaku. 

Selama beberapa detik, aku tak mendengar sedetikpun baritone lembutnya menyapa gendang telinga. 

Terasa lembut saat ia berlutut dihadapanku, mengangkat daguku , dan berkata pelan. 

"Aku akan selalu menjagamu " 

Setelah berujar, ia memelukku. 

Hangat, sangat hangat. Aroma tubuhnya yang sangat menenangkan pikiranku. 

Aku menutup mataku. Berharap kini, esok dan nanti akan tetap seperti ini. 

"Cinta Pertamaku.." 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Secret Admirer

Untuk Ikram Wahyudi.

PENENTUAN